Keindahan Gunung Bromo tidak hanya terkenal karena panorama alamnya yang menakjubkan, tetapi juga karena kekayaan cita rasanya. Kuliner khas Bromo menawarkan pengalaman berbeda bagi para wisatawan, mulai dari makanan hangat yang cocok dinikmati di udara dingin hingga minuman tradisional yang menenangkan tubuh. Dari mie ongklok khas Tosari hingga kopi Tengger yang aromanya khas, setiap sajian mencerminkan kehangatan dan keramahan masyarakat setempat.
Menjelajahi kawasan Bromo rasanya belum lengkap tanpa mencicipi berbagai kuliner tradisionalnya. Makanan-makanan ini bukan hanya lezat, tapi juga sarat nilai budaya yang melekat pada kehidupan masyarakat Tengger. Penasaran apa saja hidangan istimewa yang wajib kamu coba saat berkunjung ke sana? Yuk, intip deretan kuliner khas Bromo yang siap menggoyang lidah dan bikin kamu ingin kembali lagi!
Baca Juga: 6 Kuliner Medan Terbaik yang Wajib Kamu Coba Sekarang!
Pesona Gunung Bromo dan Cita Rasa Kuliner Khasnya
Gunung Bromo merupakan salah satu destinasi wisata paling populer di Jawa Timur. Setiap tahun, ribuan wisatawan datang ke sini untuk menikmati pemandangan sunrise yang menakjubkan di atas lautan pasir. Namun, keindahan alam bukan satu-satunya daya tarik Bromo — kawasan ini juga menawarkan berbagai kuliner khas Bromo yang wajib kamu cicipi.
Mulai dari makanan tradisional hingga jajanan unik khas masyarakat Tengger, kuliner di Bromo mampu menghadirkan kehangatan tersendiri di tengah udara dingin pegunungan.
1. Mie Ongklok di Warung Wonokitri
Meskipun identik dengan daerah Wonosobo, Mie Ongklok juga bisa kamu temukan di sekitar kawasan Bromo, terutama di daerah Tosari dan Ngadisari.
Hidangan ini menggunakan mie kuning bertekstur kenyal yang disiram kuah kental berbumbu kacang dengan sentuhan bawang goreng dan daun kucai. Biasanya disajikan bersama sate ayam atau kerupuk renyah.
Di tengah suhu dingin Bromo, semangkuk mie ongklok hangat terasa begitu nikmat dan menenangkan. Rasanya gurih, sedikit manis, dan punya aroma khas yang sulit dilupakan.
2. Kopi Bromo dan Kopi Tengger
Tak lengkap rasanya ke Bromo tanpa menyeruput kopi lokalnya. “Ngopi di Bromo” kini menjadi aktivitas wajib para wisatawan, apalagi banyak kafe dan warung kopi yang menawarkan panorama indah pegunungan Tengger.
Salah satu yang paling terkenal adalah Kopi Tengger, kopi arabika yang tumbuh di dataran tinggi Bromo. Aromanya harum dengan cita rasa sedikit asam dan aftertaste manis alami.
Menikmati secangkir kopi hangat di pagi hari sambil menyaksikan kabut tipis menyelimuti Gunung Bromo akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
3. Nasi Aron
Nasi Aron merupakan makanan tradisional khas masyarakat Tengger yang hanya bisa kamu temukan di sekitar Gunung Bromo. Uniknya, nasi ini tidak terbuat dari beras, melainkan dari jagung putih berbiji besar yang direbus hingga lembut.
Biasanya, nasi aron disajikan dengan lauk sederhana seperti sambal terasi, ikan asin, tahu, tempe, dan dadar jagung. Meskipun sederhana, rasanya gurih dan mengenyangkan — cocok untuk sarapan sebelum mendaki atau berburu sunrise di Bromo.
4. Iga Pasir
Nah, ini dia kuliner paling unik yang wajib kamu coba! Iga Pasir adalah hidangan khas Bromo yang sangat cocok disantap di tengah cuaca dingin. Iga sapi dimasak dengan bumbu rempah pedas dan disajikan panas-panas.
Yang menarik, hidangan ini dinamakan iga pasir karena proses memasaknya menggunakan tungku berlapis pasir gunung. Pasir ini berfungsi menjaga panas agar daging iga matang merata tanpa gosong.
Hasilnya? Dagingnya lembut, gurih, dan punya aroma khas yang tidak bisa kamu temukan di tempat lain. Nggak heran kalau menu ini jadi favorit para wisatawan lokal maupun mancanegara.
5. Sawut Kabut
Setelah mencoba berbagai hidangan gurih, saatnya menutup petualangan kulinermu dengan yang manis. Sawut Kabut adalah jajanan khas masyarakat Tengger yang terbuat dari ubi parut yang direbus hingga berwarna kecokelatan.
Setelah matang, sawut dibentuk menjadi kerucut kecil lalu disiram dengan cairan gula merah kental dan ditaburi parutan kelapa muda. Rasanya manis legit dengan aroma gula Jawa yang menggoda.
Nama “sawut kabut” sendiri terinspirasi dari kabut yang sering turun di Bromo — menggambarkan tampilan lembut dan beruap dari makanan ini.